Alwy Rachman
“The natural state of humanity is war.”
Thomas Hobbes
Keadaan paling alami dalam pengalaman kemanusiaan adalah perang. Begitu cakrawala Thomas Hobbes tentang manusia sebagaimana ungkapan di atas. Ungkapan terkenal lain dari Hobbes, “homo homini lupus”, “manusia adalah serigala bagi makhluk lainnya”.
Hobbes adalah seorang filsuf politik yang melihat manusia sebagai makhluk yang tidak pernah berhenti berperang. Hobbes adalah generasi pendahulu John Locke. Keduanya tumbuh dalam suasana perang sipil di Inggris yang berlangsung panjang, dari 1642 hingga 1689. Kesaksian kedua pemikir ini terhadap posisi kemanusiaan selama perang sipil membawa keduanya kepada satu dalil, bahwa manusia bisa dibilangkan sebagai “makhluk perang”. Refleksi Hobbes dan Locke kemudian diabadikan ke dalam teori-teori tentang hubungan kontrak politik antara rakyat dan pemerintah.
Cakrawala kedua pemikir ini terhadap manusia dan kemanusiaan dimulai ketika keduanya berimajinasi tentang apa gerangan yang bakal terjadi jika manusia hidup tanpa konstitusi, tanpa undang-undang, tanpa aturan, tanpa struktur sosial, apalagi tanpa ketertiban sosial. Kedua pribadi ini, secara meyakinkan, membilangkan bahwa manusia akan menjadi makhluk sebebas-bebasnya tanpa hambatan dan tanpa aral.
Dengan situasi tanpa aral sedikit pun, manusia dipastikan akan saling menyerang atas nama berbagai alasan dan kepentingan. Manusia akan saling merusak, saling merampas, dan kalau perlu saling meniadakan. Suasana chaos pun tak terhindarkan dan memaksa manusia menjadi serigala bagi manusia lain. Manusia akan menjelma menjadi binatang liar dan buas.
Tapi, di suasana chaos itulah manusia belajar menginspirasi kesepakatan damai di antara sesamanya. Lalu, kesepakatan seperti ini yang kini dibilangkan sebagai “kontrak sosial”. Semangat dan isi kontrak sosial tidak lain adalah untuk mengekang dan membatasi kebebasan kelompok manusia kuat terhadap manusia lain. Tidak berarti bahwa kelompok manusia lemah tidak bisa menjadi serigala bagi manusia lainnya. Spirit kontrak sosial adalah berbagi kebebasan, menghormati kebebasan sendiri sembari menyesuaikan diri dengan kebebasan orang lain. Kebebasan manusia hanya bermakna jika ia menghormati kebebasan manusia lain.
Hobbes adalah pemikir yang menolak revolusi, apa pun bentuknya. Bagi Hobbes, dorongan alami (impuls) manusia untuk mendudukkan atau menyebut dirinya sebagai “manusia perang” atau “manusia petarung” adalah hal menakutkan. Impuls untuk berperang adalah sesuatu yang jahat. Perang tidak menyisakan apa-apa kecuali degradasi atas kemanusiaan, begitu pendirian Hobbes, meskipun sebagian pemikir mendaku bahwa perang justru menghidupkan dan meninggikan peradaban.
Berbeda dengan Hobbes, Locke mendaku bahwa impuls “manusia perang” adalah hal yang alami. Dorongan bertarung dapat dipakai untuk menegosiasi ulang kepentingan di antara kelompok-kelompok manusia. Impuls berperang dapat dipakai guna menyeimbangkan pola hubungan antara manusia sebagai rakyat dan manusia sebagai pemerintah, antara pemberi dan penerima mandat kekuasaan.
“Manusia perang” ataupun “manusia petarung”, sebagaimana pendakuan Hobbes, bermuara pada tiga impuls utama manusia, yaitu impuls berkompetisi, tidak percaya kepada orang lain, dan perayaan atas kekaguman diri. Impuls berkompetisi dipakai untuk mencari keuntungan. Keuntungan yang digapai lalu dijaga dengan cara mencurigai orang lain. Ketidakpercayaan pun digunakan untuk mengamankan diri. Dan, setelah itu, keuntungan dirayakan sebagai sebuah reputasi.
Kompetisi lebih sering dijalankan melalui kekerasan. Melalui kekerasan, manusia mengatribusi dirinya sebagai seorang master yang menguasai banyak hal. Lalu, semua itu dirayakan dengan kata dan senyum, baik untuk dan atas namanya sendiri, kelompoknya, profesinya, ataupun untuk dan atas nama bangsanya.
Dengan cara inilah manusia menjelmakan diri sebagai “manusia perang” atau “manusia petarung”. Selama tidak ada kekuasaan yang bisa digenggam, manusia tidak pernah kagum atas dirinya. Impuls “manusia perang” atau “manusia petarung” akan tetap mencari media perang dan akan berlangsung dari waktu ke waktu di hampir semua tatanan, meskipun perang tidak selalu diartikan sebagai perkelahian. “Perang ibarat cuaca yang lagi buruk. Dan cuaca buruk tidak bisa berbohong kepada kamar mandi,” begitu pendakuan Hobbes.
Dahi kita bisa mengerut atas pernyataan Hobbes, “the natural state of humanity is war”, “kondisi alamiah kemanusiaan adalah perang” atau pada pernyataannya “homo homini lupus”, “manusia adalah serigala bagi manusia lain,” yang keduanya seolah-olah merendahkan kualitas spiritual manusia. Tentu saja kita bisa dan pasti tergores jika hanya tiba di permukaan dua pernyataan ini. Tapi, seperti banyak pendirian ahli, Hobbes dikukuhkan sebagai filsuf politik antirevolusi, apa pun bentuknya.
Monday, August 29, 2016
Sunday, August 28, 2016
Revolusi Candu dan Gladiator Global
Alwy Rachman
Nun jauh di masa lalu, 1830-1840-an, ada sebuah kisah tentang candu.
Kisah yang dalam sejarah kemudian dibilangkan sebagai Perang Candu ini bermula
dari hubungan dagang antara dua negara berperadaban tinggi, yaitu antara
Inggris dan Cina. Oleh sebagian kalangan, kisah ini dibilangkan sebagai
Revolusi Candu.
Di kisah Revolusi Candu, Cina menjadi
pecundang dan Inggris sebagai pemenang. Cina takluk lewat taktik Inggris yang
menjerat rakyat Cina sebagai pecandu. Pasokan candu secara besar-besaran ke
Cina, pada masa itu, membuat Cina penuh dengan rakyat pemabuk. Penguasa-penguasa Cina pun pusing tujuh
keliling dan akhirnya menutup semua pintu pelabuhan bagi kapal-kapal dagang
Eropa. Menutup akses pelabuhan inilah yang kemudian mendorong Inggris
menyatakan perang terhadap Cina. Muncullah episode Perang Candu antara Inggris
dan Cina.
Hari-hari ini, di negeri ini dan di
negeri-negeri lain, istilah candu menjadi usang. Istilah candu diperbarui
menjadi narkotik. Narkotik pun diberi label haram meski sebagian pihak
menjelaskannya sebagai golongan obat analgesik yang berfungsi menghilangkan
rasa sakit. Racikan dan jenisnya pun semakin canggih dan bervariasi: opium,
ganja, kokain, amfetamin, dan segala senyawa barbital lainnya.
Istilah kecanduan pun berubah menjadi
istilah sakau yang menyakitkan. Pun kampanye atas penanggulangan bahaya
narkotik memakai bahasa yang menyakitkan: “penjara, gila, atau mati”.
“Revolusi Candu belum usai,” begitu
kira-kira pantas kita bilangkan. Revolusi Candu di abad globalisasi bukan lagi
urusan dua negara yang bertikai, sebagaimana Inggris dan Cina pada masa lalu.
Kini, urusan narkotik adalah urusan antara kelompok-kelompok kartel
internasional dan para pemimpin negara-bangsa.
Alvin Toffler, seorang pemuka pemikir
futuristik (pemikir masa depan), malah mempromosikan julukan baru bagi
kelompok-kelompok kartel ini sebagai The
Empire of Cocaine atau “Kerajaan Kokain”. Sedangkan James Mills
membilangkannya sebagai The Underground
Empire, sepadan dengan “Kerajaan Bawah Tanah”.
Baik Toffler maupun Mills mengkonfirmasi
dan menyetujui bahwa “Kerajaan Kokain” dan “Kerajaan Bawa Tanah” ini adalah
aktor baru di panggung globalisasi. Kedua penulis ini mengkonfirmasi bahwa
aktor baru ini berwatak petarung dan pembunuh. Aktor baru ini pantas
dibilangkan sebagai “gladiator global”.
Kedua pemikir masa depan ini mendaku bahwa
“Kerajaan Kokain” yang sekaligus “Kerajaan Bawah Tanah” ini dapat mengalahkan
kekuatan senjata, lebih sejahtera, serta melampaui status dan kedudukan
sejumlah negara di dunia. Meski eksistensi “Kerajaan Kokain” ini tidak
disimbolkan lewat bendera sebagaimana kelakuan negara-negara lain, mereka punya
pasukan yang bersenjata canggih, punya lembaga intelijen, punya kurir, punya
jaringan internasional, dan punya kemampuan diplomasi yang melebihi beberapa
negara.
Para pemimpin “Kerajaan Kokain Bawah Tanah”
ini mampu mengorupsi pemimpin negara-bangsa yang gemar disuap. Jangankan
bupati, wali kota, dan gubernur, presiden dari satu negara-bangsa pun dapat
dilumpuhkan lewat suap dan terorisme. Begitu kira-kira pendakuan Toffler dan
Mills yang berisi peringatan bagi para pemimpin negara-bangsa. Eksistensi
negara-bangsa kini mendapat pesaing baru dengan munculnya “Kerajaan Kokain
Bawah Tanah”, yang berkiprah sebagai aktor baru di abad globalisasi.
Adalah sikap kekanak-kanakan jika pemimpin
negara-bangsa menganggap “Kerajaan Kokain” gampang dikalahkan. Pemimpin
negara-bangsa yang terlalu birokratis membuat reaksi dan responsnya terhadap
dampak narkotik berjalan tertatih dan lambat. Pemimpin negara-bangsa sibuk pada
urusan konsultasi dan urusan menyusun memory
of understanding (MoU) dengan negara lain yang dianggap lawan. Pun
terbirit-birit menangani keperluan kelompok kepentingan politik dalam negeri. Lalu,
kasip bereaksi terhadap aksi proaktif para pangeran narkotik.
Sebaliknya, para gladiator global, terutama
kelompok-kelompok gerilyawan dan kartel-kartel narkotik, bergerak tanpa
birokrasi. Para gladiator ini justru dipimpin oleh bos karismatik yang justru
tidak dikenali oleh pemimpin negara. Pemimpin gladiator global ini justru dapat
menciptakan daya kejut dan daya bunuh dengan efisien dan cepat. Pemimpin
gladiator ini dapat membeli pemimpin negara-bangsa dengan cara paling canggih.
“Quick respons”, begitu kira-kira
dalil para gladiator ini.
Pada akhirnya, segenap “gladiator global”
ini terpingkal-pingkal menyaksikan para pemimpin negara-bangsa yang menjadikan
“narkotik” sebagai isu selebritas yang dibumbui oleh cerita tentang sang
gembong dengan perempuan-perempuan cantik di sekitarnya—boleh artis, boleh
model. Pada ujungnya, baru kita mengerti mengapa bahasa kampanye melawan bahaya
narkotik di negeri ini hanya mengancam bangsa sendiri, yaitu “penjara, gila,
atau mati”. Rupanya, bahasa kita adalah bahasa buta huruf di hadapan segenap
gladiator global.
Friday, August 26, 2016
Wajah Kerumunan
Alwy Rachman
Di salah satu saluran radio swasta, menjelang tengah malam, 7 September lalu, sedang berlangsung tanya-jawab antara seorang penyiar dengan seorang narasumber di Australia. Tanya-jawab itu berkisar tentang penyelenggaraan gaya kampanye pemilu di Australia. Sang penyiar bertanya, apakah kampanye di Australia juga seramai di Indonesia?
Tak ada kampanye gaya Indonesia di sini. Tak ada umbul-umbul. Tak ada baliho yang dipasang di mana-mana. Tak ada kota yang disesaki oleh gambar dan foto dari mereka yang berkompetisi secara politik. Pun tak ada kerumunan pengendara motor berkeliling kota. Keramaian hanya terlihat di kantor-kantor partai, begitu kurang-lebih jawaban sang narasumber.
Gaya kampanye politik di Indonesia sejauh ini memang gaya kerumunan. Kerumunan, oleh para politikus, dipakai sebagai alat politik dalam berbagai skala. Dari kerumunan tingkat kampung, kecamatan, hingga kerumunan tingkat kota. Pun gaya berkerumun mereka macam-macam. Dari lesehan di kampung-kampung, kumpul-kumpul di lapangan terbuka, hingga kerumunan menggunakan motor dan mobil untuk berkeliling kota.
Kerumunan pun dilengkapi ragam sarana untuk mengikatnya. Dari baju kaus, umbul-umbul, slogan-slogan, nomor urut calon, hingga mobil-mobil kecil-besar yang telah di-branding sebagai personifikasi sang politikus. Melalui semua itu, sang pencari kuasa berkehendak mempengaruhi hak politik publik.
Kerumunan memang adalah sejarah awal media massa, begitu pendakuan Alvin Toffler, penulis dan futurolog asal Amerika. Dilihat dari perspektif sejarah, kerumunan adalah wajah komunikasi masyarakat agraris yang belum mengenal surat kabar, radio, apalagi televisi. Komunikasi kerumunan dipastikan berlangsung dari mulut ke telinga—kita sering membilangkannya sebagai komunikasi dari mulut ke mulut. Gaya komunikasi kerumunan adalah gaya gelombang pertama yang dinilai usang, dilihat dari sisi tersedianya berbagai sarana media sebagai konsekuensi berlangsungnya revolusi media.
Jika bukan mainan yang digerakkan oleh sang politikus, inti pesan politik kerumunan adalah “You are not alone”, “Engkau tak sendiri”, wahai sang pencari kuasa. Atau, bisa juga sebaliknya, kerumunan bisa mendatangkan sensasi kepada sang politikus, seolah-olah ia sedang berkuasa secara penuh karena sedang dikelilingi oleh ratusan bahkan ribuan peserta kerumunan. Sensasi yang menciptakan suasana mirip ekstasi atas kuasa, begitu penilaian Toffler. Kalau kerumunan adalah mainan politik, sang pencari kuasa hendak mengatakan pada publik, “I am not alone”, “Saya tak sendiri”.
Tapi, apa pun bentuknya, Toffler melanjutkan, kelemahan komunikasi kerumunan terletak pada kualitasnya yang “ephemeral”. “Ephemeral” yang dimaksudkan Toffler di sini tak lain adalah pesona komunikasi yang berlangsung “hanya satu hari”. Komunikasi “ephemeral” tak mampu menanamkan pesan politik yang kuat dan tertanam lama ke segenap kelompok masyarakat yang heterogen dalam waktu dan kecepatan yang bersamaan.
Dengan kualitas yang “ephemeral”, kerumunan bisa dipersamakan dengan “durable medium”, yaitu media komunikasi yang gampang retak dan pecah. Begitu kerumunan bubar, peserta kerumunan malah tak tahu apa sebenarnya pesan politik yang dibawanya dan kepada siapa pesan politik itu ditujukan. Dengan pernyataan lain, pesan politik pun hancur begitu kerumunan bubar.
Negeri ini pasti tak bisa lagi dibilangkan sebagai negeri agraris. Faktanya, jumlah petani semakin berkurang dari waktu ke waktu. Tak juga bisa dibilang miskin dari teknologi komunikasi. Buktinya, surat kabar, televisi, laptop, handphone, sudah tiba di kampung-kampung. Tapi politikus negeri ini memang hanya percaya pada demokrasi massa. Kerumunan-kerumunan dengan sengaja dibangun dari kampung ke kampung, lalu dijadikan massa sebagai cara berpolitik.
Lalu, massa itu digerakkan ke hampir setiap ruang publik. Itu pun dengan kepercayaan, semakin besar massa yang digerakkan, semakin besar pengaruhnya pada publik. Massa telanjur dinilai sebagai bagian dari legitimasi politik. Massa yang besar seolah identik dengan dukungan besar terhadap sang pencari kuasa.
Kerumunan malah—jauh sebelumnya—telah dimanipulasi. Lihatlah iklan-iklan politik di surat-surat kabar. Di sana-sini, wajah sang politikus dilatarbelakangi oleh gambar-gambar kerumunan banyak orang. Pesona kerumunan disisipkan sebagai bagian dari iklan sang pencari kuasa. Dengan cara itu, sang politikus ingin mengatakan, “I am not alone.”
Jadi, masalahnya bukan pada penilaian Toffler yang membilangkan bahwa kerumunan adalah modus komunikasi politik yang berciri “pra-teknologi”. Toh, Indonesia kaya akan infrastruktur teknologi komunikasi. Masalahnya, di negeri ini politikus memang hanya percaya pada demokrasi kerumunan. Namanya berkerumun, pasti tak hanya ramai. Malah bising.
Di salah satu saluran radio swasta, menjelang tengah malam, 7 September lalu, sedang berlangsung tanya-jawab antara seorang penyiar dengan seorang narasumber di Australia. Tanya-jawab itu berkisar tentang penyelenggaraan gaya kampanye pemilu di Australia. Sang penyiar bertanya, apakah kampanye di Australia juga seramai di Indonesia?
Tak ada kampanye gaya Indonesia di sini. Tak ada umbul-umbul. Tak ada baliho yang dipasang di mana-mana. Tak ada kota yang disesaki oleh gambar dan foto dari mereka yang berkompetisi secara politik. Pun tak ada kerumunan pengendara motor berkeliling kota. Keramaian hanya terlihat di kantor-kantor partai, begitu kurang-lebih jawaban sang narasumber.
Gaya kampanye politik di Indonesia sejauh ini memang gaya kerumunan. Kerumunan, oleh para politikus, dipakai sebagai alat politik dalam berbagai skala. Dari kerumunan tingkat kampung, kecamatan, hingga kerumunan tingkat kota. Pun gaya berkerumun mereka macam-macam. Dari lesehan di kampung-kampung, kumpul-kumpul di lapangan terbuka, hingga kerumunan menggunakan motor dan mobil untuk berkeliling kota.
Kerumunan pun dilengkapi ragam sarana untuk mengikatnya. Dari baju kaus, umbul-umbul, slogan-slogan, nomor urut calon, hingga mobil-mobil kecil-besar yang telah di-branding sebagai personifikasi sang politikus. Melalui semua itu, sang pencari kuasa berkehendak mempengaruhi hak politik publik.
Kerumunan memang adalah sejarah awal media massa, begitu pendakuan Alvin Toffler, penulis dan futurolog asal Amerika. Dilihat dari perspektif sejarah, kerumunan adalah wajah komunikasi masyarakat agraris yang belum mengenal surat kabar, radio, apalagi televisi. Komunikasi kerumunan dipastikan berlangsung dari mulut ke telinga—kita sering membilangkannya sebagai komunikasi dari mulut ke mulut. Gaya komunikasi kerumunan adalah gaya gelombang pertama yang dinilai usang, dilihat dari sisi tersedianya berbagai sarana media sebagai konsekuensi berlangsungnya revolusi media.
Jika bukan mainan yang digerakkan oleh sang politikus, inti pesan politik kerumunan adalah “You are not alone”, “Engkau tak sendiri”, wahai sang pencari kuasa. Atau, bisa juga sebaliknya, kerumunan bisa mendatangkan sensasi kepada sang politikus, seolah-olah ia sedang berkuasa secara penuh karena sedang dikelilingi oleh ratusan bahkan ribuan peserta kerumunan. Sensasi yang menciptakan suasana mirip ekstasi atas kuasa, begitu penilaian Toffler. Kalau kerumunan adalah mainan politik, sang pencari kuasa hendak mengatakan pada publik, “I am not alone”, “Saya tak sendiri”.
Tapi, apa pun bentuknya, Toffler melanjutkan, kelemahan komunikasi kerumunan terletak pada kualitasnya yang “ephemeral”. “Ephemeral” yang dimaksudkan Toffler di sini tak lain adalah pesona komunikasi yang berlangsung “hanya satu hari”. Komunikasi “ephemeral” tak mampu menanamkan pesan politik yang kuat dan tertanam lama ke segenap kelompok masyarakat yang heterogen dalam waktu dan kecepatan yang bersamaan.
Dengan kualitas yang “ephemeral”, kerumunan bisa dipersamakan dengan “durable medium”, yaitu media komunikasi yang gampang retak dan pecah. Begitu kerumunan bubar, peserta kerumunan malah tak tahu apa sebenarnya pesan politik yang dibawanya dan kepada siapa pesan politik itu ditujukan. Dengan pernyataan lain, pesan politik pun hancur begitu kerumunan bubar.
Negeri ini pasti tak bisa lagi dibilangkan sebagai negeri agraris. Faktanya, jumlah petani semakin berkurang dari waktu ke waktu. Tak juga bisa dibilang miskin dari teknologi komunikasi. Buktinya, surat kabar, televisi, laptop, handphone, sudah tiba di kampung-kampung. Tapi politikus negeri ini memang hanya percaya pada demokrasi massa. Kerumunan-kerumunan dengan sengaja dibangun dari kampung ke kampung, lalu dijadikan massa sebagai cara berpolitik.
Lalu, massa itu digerakkan ke hampir setiap ruang publik. Itu pun dengan kepercayaan, semakin besar massa yang digerakkan, semakin besar pengaruhnya pada publik. Massa telanjur dinilai sebagai bagian dari legitimasi politik. Massa yang besar seolah identik dengan dukungan besar terhadap sang pencari kuasa.
Kerumunan malah—jauh sebelumnya—telah dimanipulasi. Lihatlah iklan-iklan politik di surat-surat kabar. Di sana-sini, wajah sang politikus dilatarbelakangi oleh gambar-gambar kerumunan banyak orang. Pesona kerumunan disisipkan sebagai bagian dari iklan sang pencari kuasa. Dengan cara itu, sang politikus ingin mengatakan, “I am not alone.”
Jadi, masalahnya bukan pada penilaian Toffler yang membilangkan bahwa kerumunan adalah modus komunikasi politik yang berciri “pra-teknologi”. Toh, Indonesia kaya akan infrastruktur teknologi komunikasi. Masalahnya, di negeri ini politikus memang hanya percaya pada demokrasi kerumunan. Namanya berkerumun, pasti tak hanya ramai. Malah bising.
Thursday, August 25, 2016
Nyanyian Duka Sang Penyair, Kofi Awoonor
Alwy Rachman
“Aku berada di sudut ekstrem dunia,
Aku tak duduk di baris depan
Tetapi mereka yang beruntung
Duduk di tengah dan lupakan
Aku berada di sudut ekstrem dunia
Aku hanya bisa lampaui dan lupakan.”
Kofi Awoonor
Kira-kira begitu terjemahan enam larik dari bait kedua puisi Song of Sorrow yang ditulis oleh Kofi Awoonor. Sang penyair sekaligus penulis terkemuka Ghana ini ikut menjadi korban serangan teroris di Westgate Shopping Mall, Nairobi, Kenya, oleh kelompok militan Al-Shabaab, 21 September 2013, Sabtu lalu. Kematian sang penyair yang juga menyandang status mahaguru ini sangat memukul kalangan penulis dan penyair internasional.
Duka dan lara datang bertubi karena pada Sabtu malamnya, hari di mana peristiwa itu terjadi, Awoonor dijadwalkan mengisi acara dan diminta berbicara di forum festival penulis dan story telling, yang dimaksudkan untuk membangkitkan minat membaca dan literasi di kalangan anak muda Kenya.
Oleh komunitas literasi internasional, sang penyair dianggap sebagai representasi “suara Afrika”. Ia dianggap sebagai pemuka literasi Afrika yang puisi-puisi dan tulisan-tulisan lainnya lahir dari kemampuan puitika yang autentik, yang berkemampuan mengekspresikan lipatan-lipatan kehidupan di benua hitam. Sedemikian dukanya, hingga seseorang pengagumnya menulis di jejaring media sosial dengan nada keras dan berang, “’Literasi Afrika’ benar-benar dirampas dan dicabik.”
Suasana duka bagi literasi Afrika mirip dengan nyanyian Song of Sorrow, Nyanyian Duka, yang ditulis oleh Awoonor. Puisi duka yang ditulis ini dianggap unik karena terdiri atas dua tema berbeda. Bagian pertama puisi ini berkisah tentang kemiskinan yang merajalela di sekitar kehidupan sang penyair Awoonor. Sedangkan pada bagian kedua bercerita tentang ratapan atas kematian keluarga dan para tetangganya. Puisi-puisinya, oleh banyak kalangan, dianggap wakil dari tradisi lisan Afrika.
Sang penyair memang bukan penyair biasa. Ia juga berpolitik. Puitika dan literasinya dipakai untuk berjuang. Ia pernah menyandang jabatan sebagai Duta Besar Ghana untuk Persatuan Bangsa-Bangsa pada paruh pertama 1990-an dan pernah aktif melawan apartheid. Ia juga pernah belajar sastra di University of London dan menulis beberapa drama radio untuk BBC. Pada 1975, Awoonor memimpin Departemen Bahasa Inggris di University of Cape Coast.
Nasib buruk penyair dan penulis di hadapan orang-orang bersenjata memang jamak. Jika para penulis dan penyair menjadikan bahasa sebagai senjata dalam melawan penguasa lalim, menjadikan bahasa simbol untuk menyuarakan apa yang pantas untuk diperjuangkan, orang-orang bersenjata justru sebaliknya. Orang-orang bersenjata, di bawah asuhan penguasa otoriter atau oleh kelompok-kelompok teror, selalu memilih jalan kekerasan.
Kisah yang sama tapi tak serupa juga ada di negeri ini. Baca saja kisah tentang Mochtar Lubis yang berkali-kali keluar-masuk penjara tanpa peradilan. Atau baca juga tentang cerita penyair W.S. Rendra yang juga masuk penjara karena puisi-puisi dan karya sastranya dianggap mengganggu penguasa. Atau novelis Pramoedya Ananta Toer yang dibuang ke Pulau Buru selama 14 tahun tanpa peradilan. Atau, Widji Tukul, yang terkenal dengan idiomnya, “hanya satu kata: lawan!”, yang hilang entah ke mana.
Song of Sorrow menempatkan “aku sang penyair” berada di sudut ekstrem dunia. Profesor Kofi Awoonor mengakhiri hidupnya di dunia yang bisa dibilangkan ekstrem, yakni di tangan para ekstremis. Tapi, Profesor! Engkau telah melampauinya, seperti yang engkau bilang dalam puisimu. Engkau tetap saja bapak literasi dari anak-anak Afrika yang dikelilingi oleh kelaparan dan kematian, sebagaimana yang juga engkau bilangkan di puisimu.
Profesor! Kini bukan engkau yang meratap. Kematianmu telah dikabarkan ke seluruh dunia. Engkau telah melupakannya, tapi anak-anak Afrika tetap saja mengenang bahwa engkaulah yang membawa puitika Afrika ke panggung literasi dunia.
“Aku berada di sudut ekstrem dunia,
Aku tak duduk di baris depan
Tetapi mereka yang beruntung
Duduk di tengah dan lupakan
Aku berada di sudut ekstrem dunia
Aku hanya bisa lampaui dan lupakan.”
Kofi Awoonor
Kira-kira begitu terjemahan enam larik dari bait kedua puisi Song of Sorrow yang ditulis oleh Kofi Awoonor. Sang penyair sekaligus penulis terkemuka Ghana ini ikut menjadi korban serangan teroris di Westgate Shopping Mall, Nairobi, Kenya, oleh kelompok militan Al-Shabaab, 21 September 2013, Sabtu lalu. Kematian sang penyair yang juga menyandang status mahaguru ini sangat memukul kalangan penulis dan penyair internasional.
Duka dan lara datang bertubi karena pada Sabtu malamnya, hari di mana peristiwa itu terjadi, Awoonor dijadwalkan mengisi acara dan diminta berbicara di forum festival penulis dan story telling, yang dimaksudkan untuk membangkitkan minat membaca dan literasi di kalangan anak muda Kenya.
Oleh komunitas literasi internasional, sang penyair dianggap sebagai representasi “suara Afrika”. Ia dianggap sebagai pemuka literasi Afrika yang puisi-puisi dan tulisan-tulisan lainnya lahir dari kemampuan puitika yang autentik, yang berkemampuan mengekspresikan lipatan-lipatan kehidupan di benua hitam. Sedemikian dukanya, hingga seseorang pengagumnya menulis di jejaring media sosial dengan nada keras dan berang, “’Literasi Afrika’ benar-benar dirampas dan dicabik.”
Suasana duka bagi literasi Afrika mirip dengan nyanyian Song of Sorrow, Nyanyian Duka, yang ditulis oleh Awoonor. Puisi duka yang ditulis ini dianggap unik karena terdiri atas dua tema berbeda. Bagian pertama puisi ini berkisah tentang kemiskinan yang merajalela di sekitar kehidupan sang penyair Awoonor. Sedangkan pada bagian kedua bercerita tentang ratapan atas kematian keluarga dan para tetangganya. Puisi-puisinya, oleh banyak kalangan, dianggap wakil dari tradisi lisan Afrika.
Sang penyair memang bukan penyair biasa. Ia juga berpolitik. Puitika dan literasinya dipakai untuk berjuang. Ia pernah menyandang jabatan sebagai Duta Besar Ghana untuk Persatuan Bangsa-Bangsa pada paruh pertama 1990-an dan pernah aktif melawan apartheid. Ia juga pernah belajar sastra di University of London dan menulis beberapa drama radio untuk BBC. Pada 1975, Awoonor memimpin Departemen Bahasa Inggris di University of Cape Coast.
Nasib buruk penyair dan penulis di hadapan orang-orang bersenjata memang jamak. Jika para penulis dan penyair menjadikan bahasa sebagai senjata dalam melawan penguasa lalim, menjadikan bahasa simbol untuk menyuarakan apa yang pantas untuk diperjuangkan, orang-orang bersenjata justru sebaliknya. Orang-orang bersenjata, di bawah asuhan penguasa otoriter atau oleh kelompok-kelompok teror, selalu memilih jalan kekerasan.
Kisah yang sama tapi tak serupa juga ada di negeri ini. Baca saja kisah tentang Mochtar Lubis yang berkali-kali keluar-masuk penjara tanpa peradilan. Atau baca juga tentang cerita penyair W.S. Rendra yang juga masuk penjara karena puisi-puisi dan karya sastranya dianggap mengganggu penguasa. Atau novelis Pramoedya Ananta Toer yang dibuang ke Pulau Buru selama 14 tahun tanpa peradilan. Atau, Widji Tukul, yang terkenal dengan idiomnya, “hanya satu kata: lawan!”, yang hilang entah ke mana.
Song of Sorrow menempatkan “aku sang penyair” berada di sudut ekstrem dunia. Profesor Kofi Awoonor mengakhiri hidupnya di dunia yang bisa dibilangkan ekstrem, yakni di tangan para ekstremis. Tapi, Profesor! Engkau telah melampauinya, seperti yang engkau bilang dalam puisimu. Engkau tetap saja bapak literasi dari anak-anak Afrika yang dikelilingi oleh kelaparan dan kematian, sebagaimana yang juga engkau bilangkan di puisimu.
Profesor! Kini bukan engkau yang meratap. Kematianmu telah dikabarkan ke seluruh dunia. Engkau telah melupakannya, tapi anak-anak Afrika tetap saja mengenang bahwa engkaulah yang membawa puitika Afrika ke panggung literasi dunia.
Subscribe to:
Posts (Atom)