Alwy Rachman
Bahasa politik memang licin. Paling tidak, begitu suasana yang muncul menyusul “pidato politik ringkas” sang politikus muda di teras institusi antikorupsi pada Jumat, 10 Januari lalu. Pidato yang menyelipkan ungkapan “terima kasih” ke berbagai pihak itu tiba-tiba menciptakan rongga di mana-mana untuk diinterpretasi oleh mereka yang gemar membuat analisis politik. Di atas segalanya, rongga besar menjadi terbuka karena pernyataan “terima kasih” itu ditujukan kepada orang nomor satu di negeri ini.
Ritual koruptor di teras institusi antikorupsi itu tiba-tiba memunculkan dinamika baru. Sejauh ini, teras itu menjadi panggung publik bagi “orang-orang besar” yang berstatus “pesakitan”. Di sana, “orang-orang besar” ini melewati proses shaming stage, yaitu “panggung untuk mempermalukan”, meskipun “orang-orang besar” itu masih berkesempatan menjelaskan alibi untuk membela diri, kadang-kadang disertai dengan senyum pahit atau diikuti oleh gerak tubuh seolah tak bersalah.
Lalu, tutur sang politikus muda itu terdengar tak biasa. “Pidato ringkas” nyata bicara soal alibi, pun tak ada argumentasi untuk bela diri. Maka, tutur “terima kasih”-nya pun dicerna sebagai ekspresi berkonotasi politis. Jadilah tutur sang politikus sebagai bahasa politik yang terbang tinggi menjangkau pusat-pusat kekuasaan. Dan, “pidato ringkas” itu berkehendak menebar “aroma konspirasi”.
Tutur sang politikus muda itu jauh dari kesan “hero”. Meskipun menimbulkan daya kejut sementara bagi mereka yang terkena. “Pidato ringkas” itu beraroma sarkastis, ironis, tapi kehilangan humor. Konteks “terima kasih” yang terjungkir balik dibanding ungkapan yang sama pada situasi wajar dan normal memunculkan suasana “bahasa antilogika”.
Di dalam dunia literasi, aspek sarkastis, ironis, dan humor biasanya dicampur sari lalu kemudian dibilangkan sebagai satire. Satire ibarat language game, “permainan bahasa” yang membuat “yang terkena” bisa marah besar. Itu sebabnya seniman-seniman satiris sering kali “menghaluskannya” dengan cara menyelipkan elemen-elemen humor ke bahasa seperti ini.
Pun itu sebabnya, kerja kreatif seniman satiris sering dibilangkan “kerja campur sari”. Elemen-elemen sarkastis dan ironis diaduk-aduk, dicampur-campur dengan elemen humor sedemikian rupa hingga menimbulkan daya kejut. Jadi, kita bilang saja “pidato ringkas” sang politikus muda itu sebagai “satire minus humor”. Atau sebut saja, “satire negatif”.
Sebagai karya literasi campur sari, satire pada mulanya diasosiasikan dengan hidangan buah-buahan campur sari. Jadi, jika anggur, pisang, pepaya, salak, dan buah-buahan lain berada di satu wadah piring, kita sesungguhnya sedang menikmati sajian satire. Itu sebabnya, satire sering didefinisikan sebagai to be well fed, “terhidang dengan bagus”, kira-kira begitu bahasa sederhananya.
Banyak pihak yang bilang bahwa satire adalah senjata bagi kalangan the powerless. Sedikitnya, dalam situasi powerless, satire digunakan untuk “melawan” dengan cara menyindir dengan tajam pihak-pihak yang dibilangkan sebagai the powerful. Pun sebagian orang mendaku bahwa satire adalah bahasa subversif yang ditujukan ke kelompok mapan dan berkuasa.
Media satire berbentuk jamak, dari humor yang mengalir dan berpindah dari mulut ke telinga hingga ke panggung drama, dari komik hingga ke novel, atau dari pidato hingga talk show. Di mana-mana, media satire seperti ini bersentuhan dengan politik. Tentu publik dunia masih ingat satire “Ketawa ala Rusia” yang menjalar hebat di masyarakat Rusia menjelang runtuhnya tirani Rusia. Di dalam negeri, laku satiris Gus Dur yang membilangkan presiden-presiden di Indonesia nyatanya menjadi rujukan para penulis dunia. Oleh Adam Schwarz, satire Gus Dur diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, “The first presiden was crazy about women. The second presiden was crazy about fortune. The third presiden was truly crazy.” Gus Dur nyatanya tak mau repot dengan analisis yang lebar dan panjang.
Satire berparas humor keras biasanya menjadi taktik para seniman satiris. Orwell sendiri percaya bahwa humor bisa ditamsilkan semacam “revolusi mungil”. “Humor is a tiny revolution” begitu pendakuan George Orwell. Suasana “revolusi mungil” memang dicipta dan tercipta di dalam karya Orwell, yaitu Animal Farm. Meminjam ungkapan Mahbub Junaidi, Animal Farm semacam “revolusi di antara politikus” yang telah dianimasi. Ibarat “revolusi binatang politik” untuk menyindir laku hewani para politikus.
Satire yang kental humor akan menguatkan shaming culture, semacam “kultur mempermalukan” yang ditujukan ke “orang-orang besar” yang tak tahu malu. Atau, ditujukan kepada lawan-lawan politik. Itu sebabnya, Saul Alinsky, seorang aktivis gerakan sosial terkemuka Amerika, bilang “seranglah lawan-lawanmu dengan cara mengejeknya secara komikal. Cara ini membuat lawan-lawanmu menjadi bahan tertawaan (ridicule).”
Jika lawanmu membalas, kemenangan tetap di pihakmu. Lawan-lawanmu akan “kikuk”, “uring-uringan”, “bingung”, dan “marah”, tapi tetap saja “tampak bodoh” menghadapi satire. Boleh jadi, kemarahan lawan-lawanmu akan menyala besar, tapi kemarahan mereka tak lebih dari nyala lilin. Menyala tapi melelehkan dirinya sendiri.
Wednesday, August 24, 2022
Tuesday, August 23, 2022
Literasi Sekuler dan Hate Speech
Alwy Rachman
Laku Charlie Hebdo, majalah kartun di Prancis, masih menanggung krisis. Krisisnya menjalar di kawasan Eropa, Arab, dan Afrika. Siaga Eropa dan protes Arab dan Afrika bukan pada soal Kouachi bersaudara yang telah dieksekusi. Suasana krisis semakin kental lantaran pernyataan para ulama berpengaruh Mesir, “Berhentilah engkau mengolok-olok dan mengejek-ejek Nabi,” begitu pesan kuatnya.
Melawan secara hukum juga dikumandangkan Organisasi Kerja Sama Islam. Organisasi ini bilang, “Kebebasan berekspresi bukan untuk menghina sentimen agama.” Perdana Menteri Irak malah keras, “Kata-kata agresi akan mendorong pertumpahan darah.” Pernyataan sang perdana menteri menggaung keras, meski editor majalah itu, Gerrard Biard, membela diri dan bilang, “Kami tak menyerang agama, kecuali agama yang terlibat dalam politik.”
Barack Obama memilih tak hadir dalam unjuk rasa para pemimpin Eropa, sehari-dua hari setelah peristiwa. Argumentasinya, Obama membedakan mana “kebebasan berbicara”, free speech, dan mana yang tak lebih dari kebencian dalam berbicara, hate speech. Obama nyatanya lebih persuasif. Dia bilang, “Eropa mestinya meniru Amerika dalam hal asimilasi Islam di Barat. Sejatinya, menurut pendakuan Obama, warga muslim dijaga dan terjaga agar mereka bisa merasa bahwa negara-negara di Barat adalah negaranya sendiri.
Charlie Hebdo adalah gambaran benderang tentang beda literasi Eropa, terutama Prancis. Literasi Eropa adalah literasi sekuler, sementara literasi negeri-negeri Islam adalah literasi religius. Kedua literasi ini berjarak lebar. Yang satu memandang nabi-nabi sebagai “manusia-manusia yang dimistifikasi”, sementara yang lain mendudukkan nabi-nabi sebagai manusia-manusia utama. Yang satu berbicara kemanusiaan berdasarkan cara pandang empirik, yang lain meletakkan kemanusiaan dalam kawasan transedental. Pun etiknya beda, satu berbahasa bumi dan yang lain berbahasa langit.
Perhadapan (encounter) kedua literasi tak terhindarkan: secular literacy dan religious literacy. Itu sebabnya, kemanusiaan didudukkan dengan wajah dua: secular humanity dan religious humanity. Dengan konteks berbeda, dalam catatan sejarah, konflik serupa atas “(ke)aksara(an) pernah terjadi pada masa Yunani awal. Konflik itu dapat ditelusuri pada karya Plato, Phaedrus. Di situ, Plato membilangkan keberatan Socrates terhadap Phaederus: “Jika engkau belajar aksara, engkau sama saja melawan Dewa Thoth. Aksara semata-mata hanya menanam ‘kelupaan’ pada jiwa. Penemuan yang engkau sebut aksara bukan resep untuk ingatan, tetapi cuma pengingat.” Sekuel dialog ini bisa ditemukan dalam Alpha beta: How 26 Letters shaped the Western Culture (tahun 2000), ditulis oleh John Man.
“Engkau Phaedrus!” Socrates menyeru: “Ketahuilah, kata-kata tertulis seolah-olah mewakili kepandaian. Tapi, jika engkau bertanya kepadanya, apa pun, kata-kata (aksara) tulis itu hanya mengatakan yang itu-itu saja. Untuk selamanya, begitu-begitu saja,” demikian kata Socrates. Bahasa tulis bukan untuk kearifan. Kearifan memerlukan dialog orang-orang tepat yang mencintai pengetahuan.
Budaya aksara sesungguhnya tak menjauh dari kawasan-kawasan Arab, tapi perkembangannya kemudian lebih menguntungkan budaya Barat. Aksara-aksara alfa-beta kini tak hanya dipakai sebagaimana adanya, tetapi dikombinasikan dengan modus literasi lain: kartun, sketsa, ilustrasi, dan karikatur. Kartun dan karikatur, malah, dipakai oleh media sekuler untuk menyerang literasi religius. Itu pun atas nama kebebasan berbicara.
Prancis adalah jejak dari humanitas religius ke humanitas sekuler. Jejak ini bisa dilihat dalam perjalanan filsafat Aguste Comte, yang hari ini merupakan tanggal kematiannya. Comte dikenal sebagai pemikir positivistik sepanjang sejarah ilmu pengetahuan. Comte-lah yang mendakukan tiga fase kehidupan: teologi, metafisik, dan positivistik. Jangan lupa, Comte pernah belajar di École Polytechnique di Paris, sekitar abad ke-18.
Comte bilang masyarakat adalah wujud dari evolusi sosial dari fase ke fase, mengikuti “hukum tiga fase”. Fase pertama adalah teologi yang direfleksi pada pengalaman Prancis sebelum datangnya abad pencerahan. Pada masa ini, gerak manusia dan masyarakat dibatasi melalui referensi tuhan. Manusia, menurut Comte, menerima kepercayaan buta oleh para leluhurnya.
Fase kedua adalah metafisik yang dirujuk pada akar perubahan masyarakat Prancis, menyusul revolusi 1789. Pada fase ini, hak-hak universal dijustifikasi, lalu dijadikan sebagai dasar rancangan besar melampaui otoritas semua manusia. Metafora agama-agama dipertanyakan ulang dan dinalar secara kritis. Itu sebabnya, kekuasaan agama-agama ikut dipereteli.
Fase ketiga adalah saintifik. Sains diandalkan menyusul kegagalan revolusi. Pada fase ini, Prancis menentukan solusi atas masalah-masalah sosial dengan andalan ilmu, terlepas dari adanya hak asasi manusia dan terlepas dari kehendak Tuhan. Sains diperbarui untuk menangani masalah, meski kedudukannya tak lebih dari turunan fisika klasik.
Pada akhirnya, Charlie Hebdo memang buah dari akar dari fase penyingkiran agama. Pada ujungnya, pendakuan sang editor majalah itu, Gerrard Biard, yang bilang “tak menyerang agama” adalah klise. Ia bilang tak suka agama yang berpolitik, tapi ia sendiri mempolitisasi agama. Charlie Hebdo memang penuh kebencian. Hate speech.
Laku Charlie Hebdo, majalah kartun di Prancis, masih menanggung krisis. Krisisnya menjalar di kawasan Eropa, Arab, dan Afrika. Siaga Eropa dan protes Arab dan Afrika bukan pada soal Kouachi bersaudara yang telah dieksekusi. Suasana krisis semakin kental lantaran pernyataan para ulama berpengaruh Mesir, “Berhentilah engkau mengolok-olok dan mengejek-ejek Nabi,” begitu pesan kuatnya.
Melawan secara hukum juga dikumandangkan Organisasi Kerja Sama Islam. Organisasi ini bilang, “Kebebasan berekspresi bukan untuk menghina sentimen agama.” Perdana Menteri Irak malah keras, “Kata-kata agresi akan mendorong pertumpahan darah.” Pernyataan sang perdana menteri menggaung keras, meski editor majalah itu, Gerrard Biard, membela diri dan bilang, “Kami tak menyerang agama, kecuali agama yang terlibat dalam politik.”
Barack Obama memilih tak hadir dalam unjuk rasa para pemimpin Eropa, sehari-dua hari setelah peristiwa. Argumentasinya, Obama membedakan mana “kebebasan berbicara”, free speech, dan mana yang tak lebih dari kebencian dalam berbicara, hate speech. Obama nyatanya lebih persuasif. Dia bilang, “Eropa mestinya meniru Amerika dalam hal asimilasi Islam di Barat. Sejatinya, menurut pendakuan Obama, warga muslim dijaga dan terjaga agar mereka bisa merasa bahwa negara-negara di Barat adalah negaranya sendiri.
Charlie Hebdo adalah gambaran benderang tentang beda literasi Eropa, terutama Prancis. Literasi Eropa adalah literasi sekuler, sementara literasi negeri-negeri Islam adalah literasi religius. Kedua literasi ini berjarak lebar. Yang satu memandang nabi-nabi sebagai “manusia-manusia yang dimistifikasi”, sementara yang lain mendudukkan nabi-nabi sebagai manusia-manusia utama. Yang satu berbicara kemanusiaan berdasarkan cara pandang empirik, yang lain meletakkan kemanusiaan dalam kawasan transedental. Pun etiknya beda, satu berbahasa bumi dan yang lain berbahasa langit.
Perhadapan (encounter) kedua literasi tak terhindarkan: secular literacy dan religious literacy. Itu sebabnya, kemanusiaan didudukkan dengan wajah dua: secular humanity dan religious humanity. Dengan konteks berbeda, dalam catatan sejarah, konflik serupa atas “(ke)aksara(an) pernah terjadi pada masa Yunani awal. Konflik itu dapat ditelusuri pada karya Plato, Phaedrus. Di situ, Plato membilangkan keberatan Socrates terhadap Phaederus: “Jika engkau belajar aksara, engkau sama saja melawan Dewa Thoth. Aksara semata-mata hanya menanam ‘kelupaan’ pada jiwa. Penemuan yang engkau sebut aksara bukan resep untuk ingatan, tetapi cuma pengingat.” Sekuel dialog ini bisa ditemukan dalam Alpha beta: How 26 Letters shaped the Western Culture (tahun 2000), ditulis oleh John Man.
“Engkau Phaedrus!” Socrates menyeru: “Ketahuilah, kata-kata tertulis seolah-olah mewakili kepandaian. Tapi, jika engkau bertanya kepadanya, apa pun, kata-kata (aksara) tulis itu hanya mengatakan yang itu-itu saja. Untuk selamanya, begitu-begitu saja,” demikian kata Socrates. Bahasa tulis bukan untuk kearifan. Kearifan memerlukan dialog orang-orang tepat yang mencintai pengetahuan.
Budaya aksara sesungguhnya tak menjauh dari kawasan-kawasan Arab, tapi perkembangannya kemudian lebih menguntungkan budaya Barat. Aksara-aksara alfa-beta kini tak hanya dipakai sebagaimana adanya, tetapi dikombinasikan dengan modus literasi lain: kartun, sketsa, ilustrasi, dan karikatur. Kartun dan karikatur, malah, dipakai oleh media sekuler untuk menyerang literasi religius. Itu pun atas nama kebebasan berbicara.
Prancis adalah jejak dari humanitas religius ke humanitas sekuler. Jejak ini bisa dilihat dalam perjalanan filsafat Aguste Comte, yang hari ini merupakan tanggal kematiannya. Comte dikenal sebagai pemikir positivistik sepanjang sejarah ilmu pengetahuan. Comte-lah yang mendakukan tiga fase kehidupan: teologi, metafisik, dan positivistik. Jangan lupa, Comte pernah belajar di École Polytechnique di Paris, sekitar abad ke-18.
Comte bilang masyarakat adalah wujud dari evolusi sosial dari fase ke fase, mengikuti “hukum tiga fase”. Fase pertama adalah teologi yang direfleksi pada pengalaman Prancis sebelum datangnya abad pencerahan. Pada masa ini, gerak manusia dan masyarakat dibatasi melalui referensi tuhan. Manusia, menurut Comte, menerima kepercayaan buta oleh para leluhurnya.
Fase kedua adalah metafisik yang dirujuk pada akar perubahan masyarakat Prancis, menyusul revolusi 1789. Pada fase ini, hak-hak universal dijustifikasi, lalu dijadikan sebagai dasar rancangan besar melampaui otoritas semua manusia. Metafora agama-agama dipertanyakan ulang dan dinalar secara kritis. Itu sebabnya, kekuasaan agama-agama ikut dipereteli.
Fase ketiga adalah saintifik. Sains diandalkan menyusul kegagalan revolusi. Pada fase ini, Prancis menentukan solusi atas masalah-masalah sosial dengan andalan ilmu, terlepas dari adanya hak asasi manusia dan terlepas dari kehendak Tuhan. Sains diperbarui untuk menangani masalah, meski kedudukannya tak lebih dari turunan fisika klasik.
Pada akhirnya, Charlie Hebdo memang buah dari akar dari fase penyingkiran agama. Pada ujungnya, pendakuan sang editor majalah itu, Gerrard Biard, yang bilang “tak menyerang agama” adalah klise. Ia bilang tak suka agama yang berpolitik, tapi ia sendiri mempolitisasi agama. Charlie Hebdo memang penuh kebencian. Hate speech.
Monday, August 24, 2020
Propaganda dan Manufacturing Consent
Alwy Rachman
"Media is the right arm of anarchy," tulis Dan Brown dalam novel Angels and Demons. Pernyataan menohok ini datang dari penulis novel terkenal The Da Vinci Code. Dengan benderang, pernyataan novelis sensasional dan fiksional ini segera menjungkirbalikkan anggapan lama tentang media. Pasalnya, secara tradisional, media diterima sebagai perantara idealis, mediator yang menjembatani kepentingan rakyat kebanyakan dengan kelompok-kelompok penguasa. Selama ini, media dibilangkan sebagai penengah yang mencari kebenaran dan keadilan.
Tapi, Dan Brown, lelaki yang pernah dikukuhkan sebagai satu di antara 100 orang berpengaruh di dunia oleh majalah Time, tak sendiri. Serupa tapi tak sama, pernyataan tajam juga datang dari seorang scholar, Noam Chomsky, yang memang kesohor di bidang riset media. Chomsky malah mengatakan media adalah sentra propaganda dari pihak pemerintah dan penguasa. Apalagi kalau bukan untuk membela agenda ekonomi politik serta segenap kepentingan mereka.
Yang terpapar di koran pada pagi hari dan yang tertayang hingga tengah malam di layar televisi kita terima apa adanya tanpa kemampuan menolaknya. Lalu, secara tak terelakkan, kita menjelma sebagai pembaca dan penonton "penggembira" di pinggir-pinggir panggung media. Yang kita baca dan yang kita tonton seolah membenarkan dalil Marx tua, lebih dari seratus tahun lampau, yaitu "manusia kebanyakan akan mereproduksi repetisi suara-suara kekuasaan".
Ketidakmampuan menolak, oleh Chomsky, dikatakan sebagai consent. Kita berada di posisi "menyetujui", meskipun menurut Chomsky, dari menit per menit, jam per jam, hari per hari, bacaan dan tayangan yang kita konsumsi adalah produk dari fabrikasi. Secara spesifik, Chomsky menyebutnya sebagai manufacturing. Jadi, bacaan dan tayangan media tak lebih dari produk fabrikasi yang diproses untuk mereka yang sedang berkuasa atau mereka yang berburu kekuasaan.
Fabrikasi bacaan dan tayangan, sebagaimana dibilangkan Chomsky, disaring oleh lima pihak. Saringan pertama, dan utama, dimulai oleh pemilik media. Coba ingat ulang laku media di negeri sendiri, yang memuat dan menayangkan hasil lembaga survei pada pemilihan presiden lalu. Sedikitnya, dua media nasional terbelah, masing-masing berpihak dan melakukan propaganda atas kepentingan sang pemilik. Publik pun tahu bahwa kedua pemilik berafiliasi pada koalisi yang berbeda. Kredibilitas media pun disimpan di kamar belakang.
Iklan berskala besar adalah contoh kedua, Chomsky menambahkan. Iklan di masa kini "menjajah media" dan dampaknya "menjajah pembaca". Selain menggerogoti hak pembaca atas bacaan dan tontonan bermutu, sebaran iklan menyempitkan ruang baca. Di koran-koran, bacaan terpotong-potong tak menentu. Di televisi, tayangan terinterupsi secara terus-menerus di tengah isi tayangan yang banal. Lalu, jadilah kita sebagai pembaca dan penonton yang "menyetujuinya" tanpa keberatan. Padahal kita ikut membayar.
Ketiga, media kini dipenuhi oleh narasumber yang tak selalu independen. Reformasi kini menciptakan laku baru di pihak pemerintah. Kini, kantor-kantor pemerintah menyediakan pejabat penyedia informasi dan data untuk media. Kantor-kantor hubungan masyarakat di pemerintahan dan kantor-kantor di perusahaan malah menyediakan berita yang siap cetak dan siap tayang. Bacaan dan tontonan yang dihadirkan tak lagi sepenuhnya sebagai produk independensi jurnalis sebuah media. Yang kita konsumsi, dengan demikian, bukan lagi produk jurnalis yang bersandar pada dirinya sebagai mediator.
Para jurnalis, terutama untuk isu ekonomi dan politik, sengaja memilih narasumber untuk mengukuhkan standing position berita dari media yang diwakilinya, begitu anggapan keempat Chomsky. Adalah benar, sesuai dengan laku pemberitaan, jurnalis dilarang mengekspresikan opininya. Tapi, dengan merujuk pandangan para pakar yang sengaja dipilih untuk wawancara, standing position atas isu dapat dikukuhkan untuk keperluan medianya. Chomsky menyebut laku ini sebagai flak. Flak digunakan untuk memenangi persepsi atas arena perang tanding di hadapan publik pembaca.
Saringan kelima berpusat pada ideologi para jurnalis. Biasanya, ideologi para jurnalis tak jauh dari ideologi negaranya atau ideologi pemilik media. Chomsky mencontohkan, antikomunis telah menjadi darah daging para jurnalis Amerika. Itu sebabnya, jurnalis Amerika sering kali dijadikan sebagai sasaran antara oleh lawan politik, karena dianggap sebagai bagian dari ideologi negara lawan. Di berbagai negara, anti-fundamentalis dan antiteroris menjadi bagian dari ideologi pemberitaan.
Pada akhirnya, melalui fabrikasi media, Chomsky seolah menegaskan, yang engkau baca dan yang engkau tonton, bukan karena engkau menghendakinya. Pun bukan karena media menyediakan yang terbaik untukmu, meski engkau ikut membayar. Engkau hanya didudukkan di pinggir-pinggir panggung propaganda. "Media adalah tangan kanan anarki", begitu ucap Dan Brown.
"Media is the right arm of anarchy," tulis Dan Brown dalam novel Angels and Demons. Pernyataan menohok ini datang dari penulis novel terkenal The Da Vinci Code. Dengan benderang, pernyataan novelis sensasional dan fiksional ini segera menjungkirbalikkan anggapan lama tentang media. Pasalnya, secara tradisional, media diterima sebagai perantara idealis, mediator yang menjembatani kepentingan rakyat kebanyakan dengan kelompok-kelompok penguasa. Selama ini, media dibilangkan sebagai penengah yang mencari kebenaran dan keadilan.
Tapi, Dan Brown, lelaki yang pernah dikukuhkan sebagai satu di antara 100 orang berpengaruh di dunia oleh majalah Time, tak sendiri. Serupa tapi tak sama, pernyataan tajam juga datang dari seorang scholar, Noam Chomsky, yang memang kesohor di bidang riset media. Chomsky malah mengatakan media adalah sentra propaganda dari pihak pemerintah dan penguasa. Apalagi kalau bukan untuk membela agenda ekonomi politik serta segenap kepentingan mereka.
Yang terpapar di koran pada pagi hari dan yang tertayang hingga tengah malam di layar televisi kita terima apa adanya tanpa kemampuan menolaknya. Lalu, secara tak terelakkan, kita menjelma sebagai pembaca dan penonton "penggembira" di pinggir-pinggir panggung media. Yang kita baca dan yang kita tonton seolah membenarkan dalil Marx tua, lebih dari seratus tahun lampau, yaitu "manusia kebanyakan akan mereproduksi repetisi suara-suara kekuasaan".
Ketidakmampuan menolak, oleh Chomsky, dikatakan sebagai consent. Kita berada di posisi "menyetujui", meskipun menurut Chomsky, dari menit per menit, jam per jam, hari per hari, bacaan dan tayangan yang kita konsumsi adalah produk dari fabrikasi. Secara spesifik, Chomsky menyebutnya sebagai manufacturing. Jadi, bacaan dan tayangan media tak lebih dari produk fabrikasi yang diproses untuk mereka yang sedang berkuasa atau mereka yang berburu kekuasaan.
Fabrikasi bacaan dan tayangan, sebagaimana dibilangkan Chomsky, disaring oleh lima pihak. Saringan pertama, dan utama, dimulai oleh pemilik media. Coba ingat ulang laku media di negeri sendiri, yang memuat dan menayangkan hasil lembaga survei pada pemilihan presiden lalu. Sedikitnya, dua media nasional terbelah, masing-masing berpihak dan melakukan propaganda atas kepentingan sang pemilik. Publik pun tahu bahwa kedua pemilik berafiliasi pada koalisi yang berbeda. Kredibilitas media pun disimpan di kamar belakang.
Iklan berskala besar adalah contoh kedua, Chomsky menambahkan. Iklan di masa kini "menjajah media" dan dampaknya "menjajah pembaca". Selain menggerogoti hak pembaca atas bacaan dan tontonan bermutu, sebaran iklan menyempitkan ruang baca. Di koran-koran, bacaan terpotong-potong tak menentu. Di televisi, tayangan terinterupsi secara terus-menerus di tengah isi tayangan yang banal. Lalu, jadilah kita sebagai pembaca dan penonton yang "menyetujuinya" tanpa keberatan. Padahal kita ikut membayar.
Ketiga, media kini dipenuhi oleh narasumber yang tak selalu independen. Reformasi kini menciptakan laku baru di pihak pemerintah. Kini, kantor-kantor pemerintah menyediakan pejabat penyedia informasi dan data untuk media. Kantor-kantor hubungan masyarakat di pemerintahan dan kantor-kantor di perusahaan malah menyediakan berita yang siap cetak dan siap tayang. Bacaan dan tontonan yang dihadirkan tak lagi sepenuhnya sebagai produk independensi jurnalis sebuah media. Yang kita konsumsi, dengan demikian, bukan lagi produk jurnalis yang bersandar pada dirinya sebagai mediator.
Para jurnalis, terutama untuk isu ekonomi dan politik, sengaja memilih narasumber untuk mengukuhkan standing position berita dari media yang diwakilinya, begitu anggapan keempat Chomsky. Adalah benar, sesuai dengan laku pemberitaan, jurnalis dilarang mengekspresikan opininya. Tapi, dengan merujuk pandangan para pakar yang sengaja dipilih untuk wawancara, standing position atas isu dapat dikukuhkan untuk keperluan medianya. Chomsky menyebut laku ini sebagai flak. Flak digunakan untuk memenangi persepsi atas arena perang tanding di hadapan publik pembaca.
Saringan kelima berpusat pada ideologi para jurnalis. Biasanya, ideologi para jurnalis tak jauh dari ideologi negaranya atau ideologi pemilik media. Chomsky mencontohkan, antikomunis telah menjadi darah daging para jurnalis Amerika. Itu sebabnya, jurnalis Amerika sering kali dijadikan sebagai sasaran antara oleh lawan politik, karena dianggap sebagai bagian dari ideologi negara lawan. Di berbagai negara, anti-fundamentalis dan antiteroris menjadi bagian dari ideologi pemberitaan.
Pada akhirnya, melalui fabrikasi media, Chomsky seolah menegaskan, yang engkau baca dan yang engkau tonton, bukan karena engkau menghendakinya. Pun bukan karena media menyediakan yang terbaik untukmu, meski engkau ikut membayar. Engkau hanya didudukkan di pinggir-pinggir panggung propaganda. "Media adalah tangan kanan anarki", begitu ucap Dan Brown.
Sunday, August 23, 2020
Teater dan Bahasa Perempuan
Alwy Rachman
“Theatre is a place and space in which
we can dream such large dreams
and attempt to realize them, …”
Jane and Lizbeth
Teater adalah ruang, tempat kita bisa bermimpi besar dan berusaha untuk mewujudkannya, begitu kira-kira makna pendakuan di atas. Pendakuan ini ditulis oleh Jane de Gay and Lizbeth Goodman di dalam satu antologi Languages of Theater, Shaped by Women, Bahasa-bahasa Teater, Terbentuk oleh Perempuan, yang dipublikasi pada 2003.
Kumpulan tulisan di buku ini mengandaikan teater sebagai tujuan, semacam destinasi di luar kehidupan sehari-hari. Teater, dengan demikian, dipersamakan dengan panggung pendamping, selain panggung kehidupan nyata. Itu sebabnya, menurut Jane dan Lizbeth, mengapa perempuan yang energinya sering terhalang di dalam kehidupan sehari-hari, memilih teater sebagai tempat untuk berekspresi.
Sayangnya, Jane dan Lizbeth melanjutkan, bahasa teater sering kali amat mengecewakan. Bahasa teater lebih banyak memunculkan perempuan dalam keadaan tak utuh. Teater dibiarkan dihegemoni oleh lelaki. Tokoh perempuan senantiasa minoritas. Pun perempuan tak lebih dari tokoh subordinat. Mau tak mau, bahasa teater pun terkurung oleh dominasi peran tokoh lelaki.
Kalau toh teater bercerita tentang kekerasan terhadap perempuan, kekerasan pun disimbolkan secara samar dan tak utuh. Di panggung teater, kisah kekerasan terhadap perempuan menjadi kabur dan tak pernah bisa ditonton dan didengar secara paripurna. Jane dan Lizbeth akhirnya menemukan bahwa teater, sengaja atau tidak, menjadikan bahasa dan ekspresi perempuan sebagai sesuatu yang tersembunyi, dibuat untuk tak mudah dimengerti dan digambarkan berdasarkan citra yang terhina.
Kalau begitu, ajak Jane dan Lizbeth, mari kita bicara tentang bahasa dalam teater. Lalu, kita coba cari tahu apakah teater memang sarat dengan bahasa yang bermatra patriarki: yaitu apakah bahasa teks drama, konvensi gerak teatrikal, dan sistem lambang di panggung teater memang menjadikan dan menempatkan perempuan sebagai obyek yang dibicarakan, bukan subyek yang berbicara.
Jane juga membilangkan bahwa bahasa patriarki di panggung-panggung teater modern bermuara dan dimulai oleh ketidakpekaan atas nilai-nilai pada kisah dan mitos klasik Yunani. Baca saja kisah tentang para Dewi Yunani: Hera, Demeter, dan Kore. Ketiganya dilambangkan sebagai wakil bumi, tapi sangat bergantung pada dewa lelaki, Zeus. Hera tak lebih dari dewi pelayan. Pun Demeter. Hera adalah istri sebagaimana Demeter. Demeter dan putrinya, Kore, adalah dua dewi yang dikisahkan terselamatkan oleh Zeus. Lalu Zeus pun menjadi pusat kisah yang merayakan subordinasi kekuasaan matriarkal dari para dewi untuk kekuasaan langit patriarki sang dewa.
Bagi Simone de Beauvoir, seorang perempuan pemikir feminisme eksistensialis, kisah-kisah mitos klasik Yunani adalah catatan tentang penindasan budaya perempuan. Mitos Yunani tak lepas dan tak jauh dari narasi perempuan sebagai korban. Mitos Yunani adalah narasi di mana perempuan sering menjadi tokoh penjahat sekaligus sebagai tokoh korban.
Mitos dibuat dan ditegakkan oleh orang-orang yang takut akan dirinya sendiri. Dalam mitos, manusia mengidolakan tokoh macho, seperti Hercules dan Prometheus. Lalu, tokoh perempuan bermain pasif dan berperan sebagai tokoh sekunder dalam kisah-kisah para pahlawan. Dengan cara ini, Simone De Beauvoir menunjukkan bahwa tokoh perempuan diciptakan sebagai proyeksi atas ketakutan pria, terutama ketakutan atas kematian yang terhubung dengan pandangan patriarki terhadap fungsi reproduksi perempuan. Takut kehilangan seksualitas akibat kematian perempuan sebagai wadah patriarki, kira-kira begitu bahasa sederhananya.
Di luar panggung teater, Irigaray, yang juga seorang feminis, berpandangan tak kalah menarik. Irigaray, misalnya, menilai bahwa perbedaan bahasa lelaki dan bahasa perempuan dimulai dari cara mempersepsi tubuh sebagai wadah nilai-nilai. Baca mitos-mitos kebudayaan, dengarkan ceramah-ceramah teologis, baca legenda-legenda, simak pepatah-petitih kebudayaan, dengarkan pidato-pidato sang pemimpin, baca komik, atau dengarkan dongeng.
Di situ, sesekali atau sering kali, kita menemukan bahasa patriarki yang mengidolakan tubuh lelaki. Bahasa yang tak jauh dari prinsip yang disebut oleh Irigaray sebagai “Authority Principle of God”. Di situ pula akan ditemukan bahasa perempuan yang tercitra ke dalam prinsip “The Rebellious Principle of Satan”. Otoritas Tuhan dan pemberontakan setan dipindahkan ke dalam bahasa untuk dua tubuh yang berbeda.
Tapi Jane dan Lizbeth tetap berharap pada panggung teater. Kedua pemikir dan peneliti teater ini mendaku bahwa teater adalah ruang eksplorasi yang dapat mengatasi asosiasi negatif bahasa perempuan untuk diubah menjadi bahasa yang memberdayakan. Kalau bahasa dengan segenap maknanya dapat diangkut ke dalam konteks yang terbuka untuk dieksplorasi di panggung teater, perbedaan dan perpecahan dalam kerangka komunikasi teater dapat diatasi.
Jika tidak, teater tak ubahnya dengan dunia sehari-hari. Kalau bahasa perempuan tak mendapatkan tempat, teater akan jauh dari kualitasnya sebagai panggung pendamping. Dan jika memang sudah begini, teater tak lebih dari panggung kembar dari dunia sehari-hari.
“Theatre is a place and space in which
we can dream such large dreams
and attempt to realize them, …”
Jane and Lizbeth
Teater adalah ruang, tempat kita bisa bermimpi besar dan berusaha untuk mewujudkannya, begitu kira-kira makna pendakuan di atas. Pendakuan ini ditulis oleh Jane de Gay and Lizbeth Goodman di dalam satu antologi Languages of Theater, Shaped by Women, Bahasa-bahasa Teater, Terbentuk oleh Perempuan, yang dipublikasi pada 2003.
Kumpulan tulisan di buku ini mengandaikan teater sebagai tujuan, semacam destinasi di luar kehidupan sehari-hari. Teater, dengan demikian, dipersamakan dengan panggung pendamping, selain panggung kehidupan nyata. Itu sebabnya, menurut Jane dan Lizbeth, mengapa perempuan yang energinya sering terhalang di dalam kehidupan sehari-hari, memilih teater sebagai tempat untuk berekspresi.
Sayangnya, Jane dan Lizbeth melanjutkan, bahasa teater sering kali amat mengecewakan. Bahasa teater lebih banyak memunculkan perempuan dalam keadaan tak utuh. Teater dibiarkan dihegemoni oleh lelaki. Tokoh perempuan senantiasa minoritas. Pun perempuan tak lebih dari tokoh subordinat. Mau tak mau, bahasa teater pun terkurung oleh dominasi peran tokoh lelaki.
Kalau toh teater bercerita tentang kekerasan terhadap perempuan, kekerasan pun disimbolkan secara samar dan tak utuh. Di panggung teater, kisah kekerasan terhadap perempuan menjadi kabur dan tak pernah bisa ditonton dan didengar secara paripurna. Jane dan Lizbeth akhirnya menemukan bahwa teater, sengaja atau tidak, menjadikan bahasa dan ekspresi perempuan sebagai sesuatu yang tersembunyi, dibuat untuk tak mudah dimengerti dan digambarkan berdasarkan citra yang terhina.
Kalau begitu, ajak Jane dan Lizbeth, mari kita bicara tentang bahasa dalam teater. Lalu, kita coba cari tahu apakah teater memang sarat dengan bahasa yang bermatra patriarki: yaitu apakah bahasa teks drama, konvensi gerak teatrikal, dan sistem lambang di panggung teater memang menjadikan dan menempatkan perempuan sebagai obyek yang dibicarakan, bukan subyek yang berbicara.
Jane juga membilangkan bahwa bahasa patriarki di panggung-panggung teater modern bermuara dan dimulai oleh ketidakpekaan atas nilai-nilai pada kisah dan mitos klasik Yunani. Baca saja kisah tentang para Dewi Yunani: Hera, Demeter, dan Kore. Ketiganya dilambangkan sebagai wakil bumi, tapi sangat bergantung pada dewa lelaki, Zeus. Hera tak lebih dari dewi pelayan. Pun Demeter. Hera adalah istri sebagaimana Demeter. Demeter dan putrinya, Kore, adalah dua dewi yang dikisahkan terselamatkan oleh Zeus. Lalu Zeus pun menjadi pusat kisah yang merayakan subordinasi kekuasaan matriarkal dari para dewi untuk kekuasaan langit patriarki sang dewa.
Bagi Simone de Beauvoir, seorang perempuan pemikir feminisme eksistensialis, kisah-kisah mitos klasik Yunani adalah catatan tentang penindasan budaya perempuan. Mitos Yunani tak lepas dan tak jauh dari narasi perempuan sebagai korban. Mitos Yunani adalah narasi di mana perempuan sering menjadi tokoh penjahat sekaligus sebagai tokoh korban.
Mitos dibuat dan ditegakkan oleh orang-orang yang takut akan dirinya sendiri. Dalam mitos, manusia mengidolakan tokoh macho, seperti Hercules dan Prometheus. Lalu, tokoh perempuan bermain pasif dan berperan sebagai tokoh sekunder dalam kisah-kisah para pahlawan. Dengan cara ini, Simone De Beauvoir menunjukkan bahwa tokoh perempuan diciptakan sebagai proyeksi atas ketakutan pria, terutama ketakutan atas kematian yang terhubung dengan pandangan patriarki terhadap fungsi reproduksi perempuan. Takut kehilangan seksualitas akibat kematian perempuan sebagai wadah patriarki, kira-kira begitu bahasa sederhananya.
Di luar panggung teater, Irigaray, yang juga seorang feminis, berpandangan tak kalah menarik. Irigaray, misalnya, menilai bahwa perbedaan bahasa lelaki dan bahasa perempuan dimulai dari cara mempersepsi tubuh sebagai wadah nilai-nilai. Baca mitos-mitos kebudayaan, dengarkan ceramah-ceramah teologis, baca legenda-legenda, simak pepatah-petitih kebudayaan, dengarkan pidato-pidato sang pemimpin, baca komik, atau dengarkan dongeng.
Di situ, sesekali atau sering kali, kita menemukan bahasa patriarki yang mengidolakan tubuh lelaki. Bahasa yang tak jauh dari prinsip yang disebut oleh Irigaray sebagai “Authority Principle of God”. Di situ pula akan ditemukan bahasa perempuan yang tercitra ke dalam prinsip “The Rebellious Principle of Satan”. Otoritas Tuhan dan pemberontakan setan dipindahkan ke dalam bahasa untuk dua tubuh yang berbeda.
Tapi Jane dan Lizbeth tetap berharap pada panggung teater. Kedua pemikir dan peneliti teater ini mendaku bahwa teater adalah ruang eksplorasi yang dapat mengatasi asosiasi negatif bahasa perempuan untuk diubah menjadi bahasa yang memberdayakan. Kalau bahasa dengan segenap maknanya dapat diangkut ke dalam konteks yang terbuka untuk dieksplorasi di panggung teater, perbedaan dan perpecahan dalam kerangka komunikasi teater dapat diatasi.
Jika tidak, teater tak ubahnya dengan dunia sehari-hari. Kalau bahasa perempuan tak mendapatkan tempat, teater akan jauh dari kualitasnya sebagai panggung pendamping. Dan jika memang sudah begini, teater tak lebih dari panggung kembar dari dunia sehari-hari.
Subscribe to:
Posts (Atom)